Pertolongan Psikologis Pertama (Psychological First Aid): Peran Psikologi Untuk Korban Bencana Di Indonesia

Sedang Trending 9 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Pertolongan Psikologis Pertama (Psychological First Aid): Peran Psikologi Untuk Korban Bencana Di Indonesia

Nurul Hartini (2021) Pertolongan Psikologis Pertama (Psychological First Aid): Peran Psikologi Untuk Korban Bencana Di Indonesia. [Pidato Guru Besar] (Unpublished)

Abstract

Per Januari 2021 saja, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 197 bencana alam yang telah terjadi di Indonesia. Di antaranya adalah banjir dan tanah longsor di berbagai daerah di banyak provinsi, gunung meletus (Sinabung dan Semeru), serta gempa bumi di Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat. Sebanyak 184 orang tercatat menjadi korban jiwa dalam bencana-bencana ini, sementara 9 orang lain dilaporkan hilang, 2.777 orang luka-luka, dan lebih dari 1 juta warga harus mengungsi. Tentu saja, tidak terhitung berapa kerugian materiil dan immateriil yang harus ditanggung oleh para korban. Dalam setiap bencana, beberapa korban mungkin mengalami luka, kehilangan sanak keluarganya, dan juga harta benda. Pascabencana, keselamatan jiwa dan pertolongan untuk korban adalah hal pertama dan yang utama. Bantuan medis jelas sangat dibutuhkan, tetapi kesehatan mental para korban juga harus menjadi prioritas. Korban bencana alam rentan mengalami penurunan kesehatan mental dan dapat mengalami trauma psikologis. Abraham Maslow, seorang tokoh psikologi humanistis, memperkenalkan konsep hierarki dalam kebutuhan manusia. Ia mengurutkan kebutuhan manusia menjadi lima tingkatan mulai dari yang paling mendasar hingga yang paling luhur, yakni: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan untuk mengaktualisasi kan diri. Kebutuhan fisiologi hingga kebutuhan akan kasih sayang disebut sebagai kebutuhan homeostasis. Artinya, kebutuhan-kebutuhan ini dapat naik-turun menyesuaikan kondisi individu. Sementara itu, kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri adalah kebutuhan untuk menjadi diri sendiri dan cenderung terus dirasakan oleh individu. Pada korban bencana, kebutuhan homeostasis menjadi menonjol dan harus segera dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan ini mencakup kebutuhan dapur umum, tempat penampungan atau berlindung, informasi, rasa aman dari kemungkinan dan dampak bencana susulan, empati dan kepedulian dari orang lain, serta keterhubungan dengan anggota keluarga yang masih ada.

Actions (login required)

View Item View Item
Selengkapnya
Sumber Repository UNAIR
Repository UNAIR