Pengaruh Pola Tanam A dan B Terhadap Pertumbuhan 20 Klon Tebu (Saccharum Spp. Hybrid) Unggul Harapan Pada Tanaman Keprasan Pertama

Sedang Trending 8 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Yanto, Dwi and Prof. Dr. Ir. Sudiarso, M.S and Dr. Ir. Wiwit Budi Widyasari, M.Si (2024) Pengaruh Pola Tanam A dan B Terhadap Pertumbuhan 20 Klon Tebu (Saccharum Spp. Hybrid) Unggul Harapan Pada Tanaman Keprasan Pertama. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.

Abstract

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan salah satu tanaman tropis yang memiliki peran penting dalam industri gula, karena menjadi bahan baku utama dalam produksi gula pasir. Kebutuhan gula di Indonesia tidak berbanding lurus dengan ketersediaan gula, karena produksi gula belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Potensi hasil tebu dapat ditingkatkan dengan selalu menyediakan nutrisi maupun air yang cukup pada tanaman. Pada tanaman tebu terdapat dua jenis pola tanam yang berpengaruh terhadap ketersediaan air, yaitu pola tanam A dan B. Pola tanam A dilakukan pada lahan yang sawah serta ditanam pada musim kemarau sedangkan pola tanam B dilakukan pada lahan tegal yang mengandalkan sistem tadah hujan serta ditanam pada awal musim hujan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui mengenai pengaruh perbedaan masa tanam terhadap pertumbuhan tanaman tebu dengan melakukan penelitian tentang pengaruh pola tanam A dan B pada 20 klon unggul harapan. Hipotesis penelitian ini adalah lahan pola tanam B lebih baik dari lahan pola tanam A terhadap pertumbuhan 20 klon tebu unggul harapan, serta terdapat klon yang memiliki pertumbuhan lebih baik pada kedua jenis pola tanam dibandingkan varietas pembanding, yaitu varietas unggul jenis PSKA 942, Cenning dan Bululawang. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2024 sampai dengan bulan Juli 2024. Lokasi penelitian terletak di Kebun Tangkilsari (pola tanam A), Kecamatan Tajinan dan Kebun Sempalwadak (pola tanam B), Kecamatan Bululawang. Alat yang digunakan dalam penelitian yakni hand counter, papan jalan, meteran dalam bentuk pipa paralon, pylox, jangka sorong dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian yakni 20 klon unggul harapan dan 3 varietas baku. Rancangan yang digunakan pada penelitian adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor yakni pola tanam dan klon tebu. Variabel pengamatan yakni tinggi batang (cm), diameter batang (cm), jumlah ruas batang (per tanaman), jumlah batang (per meter), persentase roboh (%), persentase pembungaan (%) dan volume batang (cm2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon-klon unggul harapan pada pola tanam B memiliki hasil yang lebih baik dari pada pola tanam A pada parameter pertumbuhan tanaman tebu. Karena pada lahan pola tanam B memiliki hasil yang lebih baik pada variabel tinggi tanaman, jumlah ruas/tanaman, persentase roboh (%), persentase pembungaan (%) dan volume batang. Klon-klon pada lahan pola tanam A lebih baik daripada lahan pola tanam B yakni pada variabel diameter tanaman dan jumlah tanaman/juring. Tidak ada klon yang lebih unggul dari semua varietas pembanding pada pola tanam A dan B. Namun terdapat klon yang memiliki pertumbuhan lebih baik dari semua varietas pembanding pada salah satu variabelii untuk pola tanam A dan B. Pada pola tanam A, klon yang unggul pada variabel diameter tanaman yaitu klon K2, K4 dan K14, pada variabel persentase pembungaan yaitu klon K2, K5, K9 dan K18. Sedangkan pada pola tanam B, klon yang unggul pada variabel tinggi batang yaitu klon K8, K11 dan K16, pada variabel diameter batang yaitu klon K2, K14 dan K18, pada variabel jumlah ruas yaitu klon K18, pada variabel jumlah batang yaitu klon K12, pada variabel persentase roboh yaitu klon K18, pada variabel persentase pembungaan yaitu klon K2, K3, K5, K7, K8, K10, K14, K17, K18 dan K20, serta pada variabel volume batang yaitu klon K2.

English Abstract

Sugarcane plant (Saccharum officinarum L.) is a tropical plant that has an important role in the sugar industry, because it is the main raw material in the production of granulated sugar. The need for sugar in Indonesia is not directly proportional to the availability of sugar, because sugar production has not been able to meet people's needs. The potential for sugar cane yields can be increased by always providing adequate nutrition and water to the plants. In sugarcane, there are two types of planting patterns that influence water availability, namely planting patterns A and B. Planting pattern A is carried out on paddy fields and is planted in the dry season, while planting pattern B is carried out on dry land that relies on a rainfed system and is planted in beginning of the rainy season. This research was conducted to find out the effect of different planting periods on the growth of sugar cane plants by conducting research on the effect of planting patterns A and B on 20 superior clones of Harapan. The hypothesis of this research is that planting pattern B land is better than planting pattern A land for the growth of 20 promising superior sugarcane clones, and there are clones that have better growth in both types of planting patterns compared to the comparison varieties, namely superior varieties PSKA 942, Cenning and Bululawang. This research activity was carried out from February 2024 to July 2024. The research location was located in Tangkilsari Gardens (planting pattern A), Tajinan District and Sempalwadak Gardens (planting pattern B), Bululawang District. The tools used in the research were hand counters, road boards, meters in the form of paralon pipes, pylox, calipers and writing instruments. The materials used in the research were 20 promising superior clones and 3 standard varieties. The design used in the research was a Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors, namely planting patterns and sugarcane clones. Observation variables were stem height (cm), stem diameter (cm), number of stem segments (per plant), number of stems (per meter), percentage of collapse (%), percentage of flowering (%) and stem volume (cm2). The results of the research showed that the superior clones of hope in planting pattern B had better results than planting pattern A in terms of sugarcane plant growth parameters. Because on land, planting pattern B has better results on the variables of plant height, number of segments/plant, percentage of collapse (%), percentage of flowering (%) and stem volume. The clones in planting pattern A land were better than planting pattern B land, namely in the variables of plant diameter and number of plants/grooves. There were no clones that were superior to all the comparison varieties in planting patterns A and B. However, there were clones that had better growth than all the comparison varieties in one of the variables for planting patterns A and B. In planting pattern A, the superior clones in the plant diameter variable wereiv clones K2, K4 and K14, in the flowering percentage variable, namely clone K2 , K5, K9 and K18. Meanwhile, in planting pattern B, the superior clones in the stem height variable are clones K8, K11 and K16, in the stem diameter variable they are clones K2, K14 and K18, in the number of segments variable they are clones K18, in the stem number variable they are clones K12, in the fallout percentage variable is clone K18, the flowering percentage variable is clones K2, K3, K5, K7, K8, K10, K14, K17, K18 and K20, as well as the stem volume variable, namely clones K2.

[thumbnail of DALAM MASA EMBARGO] Text (DALAM MASA EMBARGO)
Dwi Yanto.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3MB)

Actions (login required)

View Item View Item
Selengkapnya
Sumber Repository UB
Repository UB