ARTICLE AD BOX
Apriliani, Wulan Dwi and Arief Setiawan, S.IP., M.A., and Andini Nur Amalia, S.Hum., M.A., (2024) Pelibatan Pemuda dalam Pelestarian Seni Bantengan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Kota Batu di Tengah Arus Globalisasi. Sarjana thesis, Universitas Brawijaya.
Abstract
Penelitian ini membahas pelibatan pemuda dalam pelestarian seni Bantengan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di Kota Batu. Seni Bantengan, sebagai bagian dari identitas budaya lokal Jawa Timur, menghadapi tantangan globalisasi yang mengancam keasliannya. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan studi kasus, penelitian ini mengungkapkan bahwa pemuda berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan seni ini, khususnya melalui partisipasi dalam festival budaya, pengelolaan komunitas seni, dan promosi menggunakan media sosial. Filosofi Bantengan yang mengedepankan solidaritas, gotong royong, dan spiritualitas menjadi pendorong utama bagi pemuda untuk terlibat dalam upaya pelestarian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelibatan pemuda mendukung keberlanjutan seni Bantengan di tengah perubahan zaman sekaligus memperkuat identitas nasional dan solidaritas antar-generasi. Sinergi antara komunitas lokal, dan generasi muda menjadi kunci keberhasilan pelestarian seni ini. Dengan memadukan elemen tradisional dan modern, seni Bantengan mampu tetap relevan dan menjadi contoh penting bagaimana warisan budaya tak benda dapat bertahan di era globalisasi.
English Abstract
This study discusses youth engagement in the preservation of Bantengan art as an Intangible Cultural Heritage (ICH) in Batu City. Bantengan art, as part of the local cultural identity of East Java, faces challenges from globalization that threaten its authenticity. Through a descriptive qualitative approach and case study, this research reveals that youth play an active role in ensuring the sustainability of this art form, particularly through participation in cultural festivals, management of art communities, and promotion via social media. The philosophy of Bantengan, emphasizing solidarity, mutual cooperation, and spirituality, serves as a primary motivator for youth involvement in preservation efforts. The findings show that youth engagement supports the sustainability of Bantengan art amidst changing times while simultaneously strengthening national identity and intergenerational solidarity. Synergy between local communities and younger generations is key to the successful preservation of this art form. By integrating traditional and modern elThis study discusses youth engagement in the preservation of Bantengan art as an Intangible Cultural Heritage (ICH) in Batu City. Bantengan art, as part of the local cultural identity of East Java, faces challenges from globalization that threaten its authenticity. Through a descriptive qualitative approach and case study, this research reveals that youth play an active role in ensuring the sustainability of this art form, particularly through participation in cultural festivals, management of art communities, and promotion via social media. The philosophy of Bantengan, emphasizing solidarity, mutual cooperation, and spirituality, serves as a primary motivator for youth involvement in preservation efforts. The findings show that youth engagement supports the sustainability of Bantengan art amidst changing times while simultaneously strengthening national identity and intergenerational solidarity. Synergy between local communities and younger generations is key to the successful preservation of this art form. By integrating traditional and modern elements, Bantengan art remains relevant and serves as an important example of how intangible cultural heritage can endure in the era of globalization.ements, Bantengan art remains relevant and serves as an important example of how intangible cultural heritage can endure in the era of globalization.
|
Text (DALAM MASA EMBARGO)
Wulan Dwi Apriliani.pdf Restricted to Registered users only Download (10MB) |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
8 bulan yang lalu

English (US) ·
Indonesian (ID) ·